Plot
Sebelum mulai benar-benar terjun menekuni cerpen anak, saya melahap habis cerpen-cerpen anak yang bertebaran kala itu. Karena sasaran saya adalah majalah Bobo, maka saya pun membaca dan mempelajari cerpen yang dimuat. Dengan demikian, saya berharap cerpen yang saya kirimkan nanti dapat langsung tembus seleksi redaksi.
Plot merupakan hal teknis yang saya paling amati. Karena berdasarkan beberapa teori penulisan yang saya baca, plot merupakan pondasi cerita yang hendak saya buat. Plot adalah rancangan cerita.
Dari puluhan cerpen yang saya baca, kebanyakan memiliki plot yang nyaris sama. Plot tersebut saya namakan plot tiga babak. Penamaan ini berdasarkan karena ada tiga sub plot yang kemudian saya tuangkan dalam tiga halaman. Jadi, satu plot untuk satu halaman.
Rumusan ini sangat membantu saya, sehingga cerpen anak yang saya buat tidak menjadi panjang dan bertele-tele. Plot tiga babak itu adalah:
1. Pengenalan: dalam satu halaman saya harus bisa menuangkan gagasan tentang tokoh, seting tempat, serta penghantar konflik.
2. Konflik atau masalah : dalam halaman kedua saya sudah harus masuk ke konflik cerita, pengolahan konflik, termasuk upaya memecahkannya.
3. Urusan beres: ini halaman terakhir yang biasanya berisi pesan memecahkan konflik dari seseorang (ibu, kakak, teman, guru atau bahkan suara hati si tokoh), konflik atau masalah beres.
Saya ambil contoh cerpen ‘Belajar Kelompok’:
Ø Tyas selalu belajar kelompok dengan tiga temannya. Mereka belajar di rumah secara bergiliran. Namun ketika akan tiba giliran Tyas, dia bingung. Soalnya, dia tinggal di gang yang selalu berisik. Rumahnya pun tak sebesar teman-temannya.
Ø Tyas minta saran pada ibunya. Tapi ibunya malah meminta Tyas tetap mengajak teman-temannya. Juga mengingatkan Tyas tentang kewajiban bersyukur akan apa yang kita miliki. Tyas bingung. Takut temannya mengira dia sombong, juga bersikap rendah diri.
Ø Tyas tetap mengajak ketiga temannya. Sebelumnya dia menjelaskan kondisi rumahnya. Ketiga temannya tak peduli. Ternyata ketika teman-temannya mengalamai langsung belajar di rumah Tyas, akhirnya mereka menyadari kejujuran Tyas. Acara belajar kelompok pun tidak diteruskan. Rumah Tyas tidak lagi dipakai untuk giliran tempat. Masalah beres.
Dalam contoh cerita lebih mudah lainnya, dapat saya paparkan sebagai berikut:
Ø Tokoh A punya kebiasaan buruk nonton teve sampai larut malam. Dia tak mendengar nasehat kakaknya.
Ø Suatu hari dia mendapat tugas sekolah. Tapi dia menunda mengerjakannya, malah asyik nonton teve. Sampai akhirnya ia mendapat masalah di kelas karena tugasnya tidak diselesaikan dengan baik. Dia malah menyontek tugas temannya.
Ø Ibu guru mengetahui kecurangan si A. Dia menasehati tentang buruknya menunda pekerjaan juga terlalu banyak nonton teve. Si A menyadari kesalahannya, dan berjanji tak mengulangi kesalahannya.
Plot yang saya rumuskan di atas merupakan plot termudah bagi penulis pemula. Tapi karena mudah, ada beberapa kekurangan yang akan kentara jika kita amati dalam cerpen-cerpen tersebut. Kekurangan tersebut yakni
-. Pesan moral seolah dipaksakan melalui nasehat atau petuah.
-. Perubahan sikap yang terlau mudah, seperti membalik telapak tangan.
Dua kekurangan tersebutlah yang harus disiasati jika ingin menggunakan plot tiga babak. Dengan banyak berlatih menulis, upaya itu dapat dicapai.
Setelah melalui proses penciptaan belasan cerpen anak, saya mulai mengacak-acak rumusan plot yang semula saya buat, diantaranya:
1. Memecahkan suatu konflik-gagal-mencoba lagi- berhasil.
2. konflik satu-konflik dua-memecahkan konflik satu ternyata konflik dua juga beres.
Plot untuk cerpen detektif cilik umumnya saya buat seperti berikut ini:
1. Menemukan masalah.
2. Memikirkan cara pemecahan masalah dan menjalani cara tersebut.
3. Menangkap pelaku dan menyingkap masalah.
Saya ambil contoh cerpen ‘Tetangga yang Aneh’:
Ø Dino dan Arni sering bermain bulutangkis setiap sore. Tapi ada kejadian aneh saat mereka selesai. Pot bunga rumah mereka hancur.
Ø Dino dan Arni sepakat menjebak pelakunya.
Ø Pelaku tertangkap. Misteri terungkap. Pelaku hanya disuruh oleh majikannya yang ternyata mantan pemain bulutangkis yang baru saja kecelakaan. Majikannya itu benci setiap melihat orang bermian bulutangkis.
Cerpen jenis dengan plot semacam ini sangat disukai pembaca dan biasanya saya mendapat respon baik dari pembaca. Dengan plot tersebut, pembaca akan dipancing rasa penasarannya dan menebak-nebak akhir cerita. Selain itu, peran moral dapat kita sisipkan tanpa kesan menggurui. Hampir setiap cerpen saya dengan plot ini selalu diterima dengan baik oleh redaksi dan dimuat. Lebih beruntung lagi, masih sedikit pengarang yang menggarap cerpen jenis detektif cilik ini.
Plot yang kelihatannya mudah tapi perlu kemahiran bercerita adalah untuk jenis cerpen momentum. Umumnya, plotnya sangat sederhana:
1. Pengenalan tokoh dan tempat.
2. Peristiwa
3. Penutup
Untuk memberi kemudahan, saya ambil contoh:
Ø Keluarga Joko harus pindah ke dekat daerah bantaran sungai. Karena tak betah Joko tak mau ikut pindah dengan keluarganya. Ia lebih memilih ikut dengan pamannya.
Ø Tiba-tiba di televisi dilaporkan kawasan tempat tinggal orangtuanya banjir. Joko bingung. Apalagi dilaporkan ada korban jiwa.
Ø Joko bersama pamannya ke daerah itu dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri banjir yang melanda. Ia bingung mencari keluarganya karena tak bias mencapai kediaman keluarganya. Akhirnya ia bertemu keluarganya di posko keselamatan. Keluarganya bilang rumah mereka tak begitu parajh, tapi mereka tetap memilih mengungsi ke posko untuk ikut membantu di posko.
Pada cerita dengan plot yang sederhana seperti ini, kekuatan yang harus dimiliki adalah dengan mengatur emosi tokoh. Peritiwa harus bisa dipaparkan dengan baik, tapi jangan terlalu didramatisir. Meski berakhir happy ending, cerita jenis ini bisa dipakai untuk menguras air mata pembaca.